burung gagak itu hinggap di atap rumah
hujan gerimis, tak ada pelangi
tak ada petir hari itu
yang ada hanya jerit tangis
dari hati orang-orang yang mengerti
akan jalan hidup yang dijalani
belahan jiwanya diambil oleh Sang Kekasih
untuk selama-lamanya

tinggallah si bocah bersama tetua

bocah itu dulunya hanya berteman keseharian dan keharusan
tak banyak menuntut, tak pula banyak rencana

bocah itu dulunya tak mengerti kata manja
tak pula paham akan apa yang kelak dihadapi

jauh sebelum membelakangi tanah tembuni
bocah itu hanya merengek ingin pergi
untuk menuntut hidup layak kemudian hari
mengubah segala ketidakmungkinan
dari segala cerca warna-warni

lima belas warsa singgah-menyinggah
melakoni keterbatasan demi asa
pura-pura iya di mata mereka agar tak terlihat duka
adalah kewajiban yang tak ada duanya

bocah itu sekarang sekarat
napasnya sengal, nadinya lunglai, dan
batinnya penuh tanya apa dan mengapa

tak ada tempat mengadu bagi si bocah
selain mengangkat jemari rintihnya kepada Sang Kekasih
“seandainya belahan jiwa itu masih di bumi,
pastilah jalan ini tak banyak taburan beling dan lintasan yang berliku.
pastilah beban di pundak takkan menumpuk”,
gumam bocah sembari menarik napasnya dalam-dalam.

kini si bocah hanya menerima
akan apa saja yang ada di mata dan di kepalanya
pasrah. berserah atas segala resah
kepada Dia Yang Maha Pemurah.

bocah itu di sini. menulis, membaca ini
bersama gema yang tak terdengar insani bumi.

20 Mei 2020
Kalimantan Barat