Maaf Aku Sibuk, Jangan Kau Kutuk

Maaf Aku Sibuk, Jangan Kau Kutuk

pada lembaran putih di atas hitam
pandanganku tertahan tampak buram
oleh bait mendayu yang menyiram
terbuai rangkaian kata yang disulam
: ah… aku sibuk. sibuk siang dan malam

terbawa lena hari yang menyapa
tak bisa merangkai kata-kata
pada siapa aku mengadu atas rasa?
: ah… aku sibuk. sibuk bekerja.
: demi esok tiada dahaga

berasa saja pena ilusiku henti sejenak
di atas tapak jalan yang kupijak
tersedak juga tiada mampu merangkak
: ah… aku sibuk. rubuh tubuhku tak bisa bertegak

oh… My God
sungguh aku terjerat
pena ilusi terpeleset kala memanjat
ini puisiku sendiri telah menghujat
menghujat jiwa karena diksi tak mampu disirat
: ah… aku sibuk. hingga penaku tersendat

tak tahu sampai kapan aku bisa konsen duduk
tenang bercakap rima dengan khusyuk
hm… entahlah. saat ini kubiarkan penailusi mengantuk
menikmati bunga tidur di ranjang empuk

pena ilusi,
maafkan aku saat ini
karena aku benar sibuk tiap hari
sibuk revisi skripsi
sibuk mengais secuil rezeki

penai lusi,
ini kurangkai puisi agar kau tak mengutuk
karena di lembar ini kupaksakan duduk
menyulam kata pamit yang dikeruk
meski laksana orang mabuk
meski tertatih hiruk pikuk
mohon jangan terlalu dalam aku dikutuk

: ah… aku sangat sibuk.

Bengkulu, 04 Feburari 2014
Diterbitkan dalam Buku Antologi Puisi Membungkam Priayi! dan posting pertama kali di kompasiana.