Lagi, Tuhan Naik Pitam (?)

Ya Tuhan,
Murka apa lagi Kau berikan?
Bencana demi bencana ber-antrian
Belum sudah abu panas Sinabung bermuntahan
Pun banjir bandang yang juga belum tertuntaskan
Kini longsor datang tanpa sepusuk undangan

Tuhan, apa Kau lagi naik pitam?
Sampai segila ini bencana menghantam
Menambah penderitaan menusia yang kesekian
Sungguh kami tak punya cukup kekuatan untuk menahan
Hanya bisa merasakan perih dan diri berlaungan

Memilin pilu, korban bergelimpangan
Bencana-bencana merenyuhkan
Duka yang tak kunjung terbebaskan
Bangunan megah tersungkur seperti tanpa rawatan

Ya Tuhan, Mengapa selalu dahiat berdatangan?
Benarkah setiap bencana adalah adzab dari kenistaan?
Apakah penghuni bangsa ini sudah lama berpaling dari latunan titah-Mu?
Atau mungkinkah ini petanda ‘kan berakhirnya suatu zaman?

Musibah, Kapan kau sudah?

Oh musibah,
Mohon berhentilah
Kami sangat tidak menginginkan kau berulah

^*^

Arti kata:
Berlaungan/Laungan : Tangisan/Jeritan.. Dahiat : Sial/Kesialan, Pilu/Kepiluan… Titah : Perintah…

“Turut merasakan duka yang menyedihkan atas musibah longsor Manado, Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara dan sekitarnya”

Bengkulu, 18 Januari 2014

Tuhan Naik Pitam – Pernah posting di Kompasiana