Kelud Mabuk

6 Likes Comment
Kelud Mabuk Puisi Lipul El Pupaka

Asap itu sendiri berdiri, seperti tugu
mandangi batang-batang, lahar menyibak
magma mabuk dan tangis mengandung angin
tungkuku belum usai menanak air mata bencana
saat murka kelud datang tiba-tiba
orang-orang berlarian menjauh bukit
menimang duka,
menjerit,
pekik,
awasssss.. Kelud bererupsi,
laharnya bermuntahan
beterbaran bagai topan
lariiiii.. lariii..

Dan anak-anak itu
tak tahu mengapa
tak harus menunggu Emak Bapak kembali
tubuh kecilnya berlari sendiri
menghardik lahar pulang ke rumahnya

Kelud mabuk, terbatuk
dalam pesta muntahan larva
melempar orang-orang ke berbagai arah

Semburan api Kelud hadirkan ribuan duka di pojokan
Lahar itu meluluhlantakan pintu surga hidup mereka
ladang sawah menangis
hewan-hewan meninggal sarang
anak-anak lupa menyusui
orang tua sibuk menyelamatkan diri keluarga
“Oh… kelud kenapa kau balut rumah kami dengan percikan laharmu”

mengubur rindu rumah petak
dan pertengkaran yang belum selesai
serombongan burung gagak
menggenggam batang-batang
luka menyepuh pagi
tangis menyorak siang
pilu menusuk hati
“Hai, kelud berhentilah kau bererupsi, tak kuasa hati ini kau cabikcabik”

Oh… Tuhan
jadikan erupsi ini berkah di nanti hari
Atas kuasa-Mu semuanya pasti
Dan kami hanya berdoa disini
Esok dan nanti
Tak ada lagi erupsi.


Kelud Mabuk – Bengkulu, 13 Februari 2014

Pernah posting di Kompasiana

Baca Juga Yang Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *