TEMBANG IBA RIMBA RAYA

Ada pokok pohon kayu tua
dengan pasrah dan rela
berderak tumbang sendiri
di tengah rimba raya.

Hatinya rekah
bak mawar merah
yang mekar membuka
menampung bias cahaya.

Hewan dan tetumbuhan
tersentak senyap sejenak
mendengar jerit terakhirnya
yang akan pecah ketika rebah.

Tanpa doa dan upacara
setitik asa hidup kembali lenyap
dan terhirup; dimakan waktu api membara.

Hanya rimba raya
menaburkan cendawan
dan anggrek hutan
disekujur jasadnya terkapar
dengan cinta yang gemetar.

Dan kemudian dengan setia
ia menyimpan segala gema jeritnya
abadi bagai kenangan kecil ber-asa
di dada bunda yang berduka.

==O.o.O==

“Tergugah untuk menulis puisi ini pada saat melihat hiruk-pikuk bencana kebakaran hutan di Pekanbaru, Riau dan sekitarnya pada tahun 2014”

Bengkulu, 20 Maret 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here