dua belas selalu jadi angka akhir
dari tahun yang akan berakhir
mari sejenak kita merenung
lalu tanya,
hal buruk apa yang pernah dilakukan?
laku seperti apa yang buat orang enggan menoleh pada kita?
cukup dua hal itu saja dulu
silakan di-jawab
jawab dalam nadir yang berdetak
sungguh, tiada reaksi tanpa aksi

-#-

di halaman rumah kita
jiwa sebagai planter
mengalir bak air
deras– penuhi persendian
dan pori-pori

dihalaman rumah kita
jiwa sebagai planter
tertanam seiring dentuman suasana pagi
sesak (mungkin) kau rasa
melas kau percuma
tapi itulah nyata dalam bekerja
di mana pun jua, di sini atau
di sana

tiada sesantai kala wisata
tak ada “tidak” dalam kata
tak pernah “tak bisa” selagi belum kau coba
tentu perihal ini kau lebih khatam, kawan
sebab aku baru hadir kemarin malam

dalam sesak dan melas
ucap syukur patutlah kau nyatakan tegas
walau hari-hari itu (mungkin) berselimut duka
walau peluh keluh bumbui cerita
walau target selalu bikin a-u-i-e-o
canda tawa antara kita
adalah penawarnya, pewarna
di antara rupa-rupa

duh… kawan,
kurasa cukup seperti
aku melembang kata
mari senggakan hidangan yang ada
sebentar lagi kelam angkasa
akan berbunga, berwarna
suara petasan kembang api
bergantian melantunkan iramanya
itu tanda tahun baru segera ditemui
tentunya harapan baru akan dilayangkan ke langit
untuk tahun depan yang lebih melangit

juga, butir-butir peluh di keningmu
ubahlah ia menjadi doa-doa
dan cucurnya yang deras
boleh kau lap dengan suka cita malam ini
simpan yang lalu
dan jadikan sebagai pelajaran, kenangan
di poket kerjamu

selamat tahun baru (2017), kawan
poket kerja baru segera dibagikan
target-target akan tereja di dalamnya
tapi tak perlu jua khawatir
sebab bersama kita tak ‘kan getir
untuk menggapai semua yang hadir
di sini,
di rumah kita.

==O.o.O==

Pasaman Barat, 31 Desember 2016.

Puisi ini dibacakan dalam acara perayaan pergantian tahun baru 2017 dan dipersembahkan untuk semua rekan kerja di PT. Agrowiratama Estate Sei Aur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here