sore ini, selepas bangun tidur siang nun tenang, aku menyeruput kopi dingin yang sepulang kerja tadi kuletakkan di dalam kulkas inventaris.

tak ada hujan sore ini. cuaca cerah, secerah harapan cucu nenek yang belum menemukan jawaban atas tanya: Kapan nikah?

aku duduk di depan rumah dan di bawah pokok mangga rimbun menahun yang belum berbuah sebiji pun. dari bawahnya aku menatapi langit jauh nun cerah di sana.

aku tersenyum saat awan melambai. sesekali ia mengedipkan mata seolah merayu agar berlama-lama menatapnya.

di atasku, ada sepasang burung bertengger –entah siapa pula nama burung itu– mereka bercumbu, sesekali terkikih-kikih seperti sedang menyaksikan acara komedi, padahal tak ada lucu-lucunya di sini. tidak ada yang lucu.

“burung aneh!”

jiwa penasaran, diam-diam kupasang telinga seksama, mendengarkan burung itu. burung jantan berbisik:

“beb, coba lihat manusia di bawah sana. kabarnya dia adalah cucu kesayangan nenek. tapi saat ditanya kapan menikah, giginya menggertak, jiwanya membuncah, ngambek.”

“ah, jangan begitu, beb, barangkali ada alasan tertentu dia belum menemukan. mari kita berdoa saja untuk ketabahannya. semogalah ia lekas menemukan dan memantapkan hatinya.”  burung betina bijak membelaku.

plakkk!!!

dua orang bocah tiba-tiba datang dari belakang, kejar-kejaran dengan sepeda roda empatnya.

“Om… ngapain, om?”

gawai pintar yang kugenggam jatuh. aku terkejut. rupanya aku belum benar-benar bangun dari tidur siang.

sore yang sial sebab hujan turun mengusirku untuk masuk ke rumah.

– Kalimantan Barat, 15 Juni 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here