SENANDUNG POHON TUA

telah puluhan ribu tahun
aku tegak kokoh hadir di sini
telah gugur pula beribu helai daun
dari ranting-rantingku ke wajah bumi
tetapi tak ada yang kutangisi
karena kutahu, tiada yang pernah lenyap
setelah semua dicerna di olah oleh rahang bumi
sari-sari mereka oleh akarku akan kembali diserap

namun sekarang,
semenjak kota kian gemerlipan
udara berserbuk racun berpercik biji api
di hadapanku dibangun jalan aspal berkilapan
dan di belakangku trotoar besar untuk pejalan kaki

maka sedari itu jualah hadir rapatan perih atas deritaku
menyaksikan daun-daunku menguning gugur saja begitu
hanya untuk singgah berbaring sia-sia dan tersiksa di depan mataku
lalu mengering dan mengerang putus asa karena tak kunjung hancur

kadang ada yang diinjak, dilindas; karena merasa tak berguna
kadang pula oleh angin disapu di bawa semaunya; kemana-mana
namun yang paling sakit, menyaksikan dedaunku ditumpuk-tumpuk lalu dibakar
dalam bak sampah yang masih dibawah naungan bayang-bayang rindangku
_: Aih.. mengerutlah sekujur tubuhku bisu dan kaku
hingga akar-akarku ringkih berdenyutan menggeletar

_: kulihat tanpa daya mereka dikerkah taring api yang berkobar
dan kudengar tanpa daya keluh terakhir mereka menyayup sendu
hingga akhirnya tuntas mengabu lalu musnah tersebar
sayatnya lebih tajam dari tetakan mata kapak beribu-ribu!

==O.o.O==

Bengkulu, 20 Maret 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here