Gelora jiwa meluap di dada
Bertaut darahku keracak memerah
Getar hatiku ragapun berpacu
Ingin ku-daki puncaknya dunia
Bersorak riang tanpa sekatan
: Ini puisiku ilusi kebebasan

Menderu nafas, bergulat dengan waktu
Keping ilusi lahirkan puisi
Suarakan bait-bait kebebasan
Buang saja segala kegetiran
Kemarilah…!
Mari nikmati dunia dengan kemegahan
: karena puisiku ilusi kebebasan

Merah membara renyutan jiwa
Bergemuruh riuh di kedalaman sukma
Renggut segunung ilusi
Runtunkan syair-syair bahari
Ayo…!
Mari-kemari santapi molek alam Ilahi
: karena ini puisiku ilusi kebebasan

[Aku memang korban setan, lantas kusuarakan takbir Tuhan]
Senggakan saja. Lepaskan saja. Semuanya!
Enyahkan hasrat yang t’lah lama memangkung
Hingga tiada lagi misteri terkukung
: karena inilah puisiku ilusi kebebasan

Aku senang, aku riang
Kata tertata tanpa terhadang

Ku-akui,
[Aku memang korban setan,lantas kusuarakan takbir Tuhan]
: karena inilah aku dan puisiku, semaian ilusi kebebasan

==O.o.O==

Judul : Puisiku Ilusi Kebebasan
Bengkulu, 19 Januari 21014

Catatan :

Pertama kali dipublikasikan di Kompasiana dan diterbitkan dalam buku antologi puisi Membungkam Priayi!, Pena Nusantara, 2014.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here