Lelaki dan Batu Nisan

2
542

“aku sangat bersalah,
terjang aku dan arahkan pistolmu ke keningku!”
kata lelaki itu sembari bersimpuh
dihadapan nisan yang kaku.

“aku sungguhlah bersalah,
telah berpaling mengkhianatimu,
ludahi dan hujani aku dengan pelor panas ke tubuhku!”
lelaki itu terus merengek sampai berlutut
menciumi kaki nisan yang kaku.

namun tegak nisan itu lebih gagah
dari segala luka dan derita
sekian lama ia berdarah-darah setiap bulan
bahkan ia telah merobek tubuhnya untuk lelaki itu
dan membelah dirinya berkali-kali
bagi kehadiran makhluk baru.

“kutuk aku dan apa sajakanlah aku!”
gema histeris lelaki itu dalam tangisnya
sembari berguling-guling di tanah merah
memukul-mukuli dada dan kepalanya
dan menghentak-tekakkan kakinya.

namun nisan itu tetap kaku: membisu
kesenyapannya lebih mendera terasa
hingga membuat lelaki itu semakin putus asa.
lalu ia-pun bangkit sembari meraung sekeras-kerasnya
berlari ke dapur, meraih pisau di atas meja
lalu menikam-nikam lambungnya.

suara parau bercampur sedu-sedak tangisnya
lelaki itu berkata;
“aku sangat bersalah, pantaslah aku bersimbah darah.
dan benamkan tubuhku dibawah nisanmu juga!”.

Bengkulu, 19 April 2014

= O.o.O =

Catatan :
Pertama kali diposting di Kompasiana dan diterbitkan dalam buku antologi cerpen dan puisi Romantika Cinta (Selaksa Bahasa Asmara), Alif Gemilang Pressindo, 2014.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here