“menjadi terkutuk! …
maka terkutuklah semua yang ada dibumi
termasuk dirimu yang membaca diriku”

“rajamlah! …
rajamlah aku yang berbicara tanpa terikat bait
rajamlah aku yang berteriak tanpa mengeja huruf
atau aku yang terbang ke ujung langit
–menjauh”

padamkanlah semua cahaya
biarkan semuanya tanpa warna
cahaya hanya memberi sudut, arah, dan ruang saja
membuat segala perbedaan terlihat jelas adanya
membuat ego menjadi gamblang nyata

aku tak pantas menjadi eksis
melulu-lalang dengan sesuka sukmaku
menerjang siapa-siapa yang menghadang
biarkan saja aku di sini menggelepar
dalam sunyi, sepi, dan hampa
dan kau, jangan memaksa berlagak sepertimu
sebab orang-orang pun tahu
“duniaku belum tentu sama
dengan duniamu. Bahkan tidak pernah sama”

… …
manakah yang awal,
putih atau hitam?
cahayakah yang mengerangi gelap,
atau gelap yang menghalangi cahaya?

wahai kau yang terombang-ambing
yang masih berperang dengan ego diri sendiri
aku sudah khatam tentang hal itu
dirimu itu ternyata tak lebih bermakna
seperti yang kau kata
jauh jutaan kali terlahir dan mati
yang ada hanya hampa dan kekosongan
yang kau cari tak pernah hilang,
hanya saja tak pernah ada.

“lalu …
mengapa kau mengutuk langit yang berwarna?
langit tak pernah salah
sedari awal ia tercipta tanpa warna
yang salah adalah cahaya
cahaya yang memberi warna”

==O.o.O==

Bengkulu, 27 Mei 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here