Satu setengah tahun.
Laman pribadiku bungkam, atau boleh aku katakan telah hilang nyawa. Tidak ada aktivitas sama sekali. Penaku patah. Resahku tak terarah. Ilusi liarku matilah sudah. Tak ada rangkaian kata indah tertulis mengatasnamakan namamu yang indah.
Seingat dayaku. Satu setengah tahun lalu, tiada hari tanpa mengeja namamu. Menelusuri gurat senyummu, hingga terangkai kata-kata yang aku namakan puisi. Walau dalam sedarku, aku paham, tak semua orang sepaham akan apa yang aku tuangkan. Salah satunya mungkin juga kamu. Tapi tak apa, rangkaian-rangkaian itu adalah cermin atas rasa. Seperti itulah ia. Ia mengalir saja seperti air. Dan aku percaya, suatu saat nanti akan bertemu muara yang tenang yang menyenangkan. Kita akan bertemu.

Puisi untukmu adalah nutrisi. Dalam sunyi sepi ia setia menemani. Mengobati nestapa menghibur diri. Namun belakangan ini, puisiku kelu dan teramat kaku. Lincahnya dulu jemariku merangkai, kini lemah sudah terkulai.
Membatin. Kemana ilusi liarku berlari. Apakah ini pertanda namamu juga telah menyisakan bayang-bayang, pergi menjauh – perlahan? Atau memang dayaku tak sekuat dulu waktu bersamamu.

Kasih.
Aku menulis puisi ini di bawah pokok tanjung yang mulai menjunjung. Di hadapanku, di atas ranting-ranting ada sepasang burung yang sedang bercumbu-ria. Dan ada sekelompok anak-anak dengan gembira-riang bermain kejar-kejaran.
Aku senyum-senyum sendiri. Sesekali menatapi langit biru, membayangkan kita bercumbu seperti burung itu. Dan sembari mengawasi anak-anak kita yang asyik bermain.

Kasih. Dalam harapku.
Semoga saja sandi dalam puisi ini tersampaikan padamu.
Di muara tenang adalah waktu temu, yang kemudian kita menyatu.
Padu.

-o-

Judul : KELUKAKU (Puisiku Kelu dan Teramat Kaku)
Kalimantan Barat, 13 Oktober 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here