Di ladangku dulu
singa mengaum dengan kuasa gila
kadang juga ia berteman domba-domba; mengembek dan menganga.

Saat ini. Di ladang milik Paman
itu semua tidak ada. Namun hama pastilah ada. Seperti burung pipit. Kicaunya menari
di gendang telinga. Kece, sedap di pandang dan di dengar meski sedikit merisikan.

Tapi, tak usah khawatir berlebihan
Tuhan superbaik, paman.
Dia memberikan sesuatu pastilah dengan tujuan-tujuan baik.
Dia hadirkan hama-hama supaya kita paham bagaimana cara bertahan dan merawat ladang. Agar kita belajar bercocok-tanam yang ramah.

Dia juga sampaikan kidung agung
sebagai alarm bagi kita
bagaimana mustinya hidup berdampingan, saling menghormati bukan gila hormat, berbagi makan sesama makhluk-Nya.

Terpenting, Paman
Kita kudu ikhlas, sedikit terusik tidak apa, mengalah saja, demikian itu jadikan cerita seru pada masa panen tiba.
Burung pipit, hama-hama lainnya, mereka juga butuh dahaga, butuh perhatian, biarkan mereka hidup selayak apa yang ada di kepala mereka.

Ikuti saja, pelan, perlahan.
Perbanyak sabar, jangan pernah melawan. Sebab hama, termasuk cacing-cacing butuh makan.

Dengan demikian ladang dibuat tidak membebani pikiran.
Tapi, apa dengan semuanya itu membuat aman?
belum tentu juga, Paman.
Sebab di mana awan melintasi kepala,
di situ juga akan ada hama-hama
dengan serangannya tak bisa diterka.
Kadang-kadang.

Seperti halnya ramalan cuaca,
tak semuanya sahih.
Juga corak objek di hadapan mata, memiliki ragam definisi dari beragam sisi.
Kadang kala, yang tampak cantik dari kejauhan, terlihat ada yang kurang pas bila didekatkan.
inilah kunamakan sebagai pentas seni kehidupan.

Sesekali acuhkan saja itu, Paman
Rasakan diri sebagai pemenang.
Sang Pipit itu hanya berani diam di satu petak ladang Paman saja.
Ya. Barangkali sayapnya tak cukup kuat
untuk sekedar mencoba terbang ke petak lain. Atau migrasi ke lapak tetangga.
Itu bukti mereka lemah dan Paman-lah juaranya.

Paman, kau paham dengan apa
yang kukatakan?
Ah. Tak usah kau ambil pusing, ini cuma laungan kutukan.
Dulu, jauh sebelum ini
aku pernah mengutarakan:
Apa yang ku-tuang tak semuanya dapat dipahami dengan matang. Tak semuanya bisa kau terima dengan lapang.
Nikmati saja hidangan lezat di meja makanmu. Dan cukup kau katakan “Oh“.

Santai saja, Paman
Tak usah uring-uringan.

– West Kalimantan. 09 Desember 2018 –

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here