Duhai kasih, rindukanlah yang merindukan

Rindu padamu membatu!

0
498
rindu

Duhai kasih, rindukanlah yang merindukan

Lambai nyiur pinggir pantai di temani sore jingga yang menenangkan, aku begitu mesra bercakap dengan rima seraya mengeja kenangan bersamamu.
Uhm… terlihat berlebihan kah bila kukatakan demikian?

Jingga kemerahan itu lenyap perlahan diiringi deru ombak,
lalu berganti sinar lampulampu kapal nelayan. Aku masih saja duduk dibangku ini; bangku dengan tenda yang pernah kita singgahi dulu –untuk sekedar berfoto selfie.

masih mengenang waktu itu,

Aku begitu menikmati suasana pantai dengan ingatan tentang mu. Sembari, satu persatu rokok yang kubeli dari warung sebelah tadi aku hisap perlahan. Huussh… jadilah kepulan asap yang kadangkadang kubentuk ia bulat-bulat.

terbuai kenangan,

Lululalang suara kendaraan silih berganti bersahutan, melintasi jalan tak begitu jauh dari bibir pantai.
Hari mulai gelap. Sinar lampulampu kapal terlihat mengecil dan sebagian bahkan menghilang. Dan aku …
ya itu pertanda, aku harus rela mengucapkan pamit pada pantai dan suasana hati pikiran yang entah aku namakan apa.
setahuku, sedari tadi hingga rokok yang kuhisap bersisa lima, aku hanya mengingat tentang foto selfie dengan mu, cumbu mesra dan colekan kecilmu ke telingaku.

dengan senyum,

Aku pulang duhai pantai
Aku pulang duhai lampulampu kapal
Aku pulang duhai deru ombak
aku pamit, pulang.

dan kau kasih,
rindukanlah yang merindukan.

Pasaman Barat, 17.05.2017
AGR – Estate Sei Aur – Rumah Staff 20.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here