Home PUISI

PUISI

Dengan lamat-lamat aku menatapi kerlip bintang nan jauh di sana. Duduk di teras rumah dan di iringi alunan lagu-lagu klasik yang menghanyutkan. Secangkir kopi hitam dan kepulan asap-asap sigaret menjadi teman setia menyeruak malam minggu bisu. Dingin deru bayu melambai...
Sebesar apa tanda titik yang menghentikan tanda tanya. Sekokoh apa tanda seru yang menegaskan atas pilihan. Dan sejelas apa ukiran pena agar ia tak memudarkan harapan. Dinihari, detak jarum jam dan gemericik kidung sungai saling sapa. Seakan mengajak berandai-andai dalam...
Tuan, Jangan kau sayat nadi kami biarkanlah kami tetap tegak; kokoh, di atas jemarijemari kaki ringkih kami. Biarkan uraturat kami merayap mencari alir kehidupan sendiri. Dan teruntukmu Nona tolong tenunkan kain kesedihan. Sebab, Bila nanti hasrat Tuantuan itu tak tertahan lagi, ikhlaskan; -izinkan kami mati dengan berselimut kain itu 25 Juli 2017 - Sumatra Barat.
Duhai kasih, rindukanlah yang merindukan Lambai nyiur pinggir pantai di temani sore jingga yang menenangkan, aku begitu mesra bercakap dengan rima seraya mengeja kenangan bersamamu. Uhm... terlihat berlebihan kah bila kukatakan demikian? Jingga kemerahan itu lenyap perlahan diiringi deru ombak, lalu berganti sinar...
Bedebah, kau Jang! Begitulah kata keluar dari bibir tipismu yang seakan mengutukku lagi bergumul mesra bersama asap# Aquina, diri ini mungkin tak sebaik pria yang kau idamkan, berbalut safari beken dengan bekas setrikaan setajam silet, dan bertumpu pada sepatu mengkilap. Tapi perlu sedikit kau...
dua belas selalu jadi angka akhir dari tahun yang akan berakhir mari sejenak kita merenung lalu tanya, hal buruk apa yang pernah dilakukan? laku seperti apa yang buat orang enggan menoleh pada kita? cukup dua hal itu saja dulu silakan di-jawab jawab dalam nadir yang berdetak sungguh, tiada...
padamu sang angin aku bersajak di dirimu dua unsur menjelma, dalam menghidupkan juga mematikan. dikau melambai dalam masa semesta terisi maha zat yang tak terduga komplekasi atas unsur-unsur. pepohonan terombang-ambing derai hujan dijatuhkan dedebuan disebarkan lapang ceria; sesak tangis –bergantian ketika mata memerah bercucuran air mata dan badan berpeluh kepanasan dikau...
“aku sangat bersalah, terjang aku dan arahkan pistolmu ke keningku!” kata lelaki itu sembari bersimpuh dihadapan nisan yang kaku. “aku sungguhlah bersalah, telah berpaling mengkhianatimu, ludahi dan hujani aku dengan pelor panas ke tubuhku!” lelaki itu terus merengek sampai berlutut menciumi kaki nisan yang kaku. namun tegak nisan...
tidurlah Risa, tidurlah lihatlah terang cahaya bara di cakrawala sana bukan terbit dari kebakaran besar di kota itu datang dari parade lilin dan lampion pesta menyambut lahirnya si jabang bayi ke dunia tidurlah Risa, tidurlah gelegar yang kau dengar garang bukan ledakan bom atau rentetan senapan itu...
Nek, Usiaku dulu dua tahun delapan bulan Emak pergi dari kehidupan Menuju-Nya pemilik ciptaan Aku, aku hanya denganmu bertahan Sejak SD aku bersamamu Tak ada kata nyerah dalam merawatku Meski terkadang aku tak jarang membangkang Melawan bila tak diberi apa yang aku mau Walau dulu sempat kau ragu Melihat...