Bukan Sebuah Penyesalan

0
154
Bukan Sebuah Penyesalan 1476804357081 300x300
Setiap memulai untuk menulis dan menumpahkan segala isi kepala, selalu saja tawa kecil mengiringi. Heran juga sih. Maybe, itu tandanya kalo tulisan ini tak layak dibaca dengan ilmu “tafsir”. Mmpusss!

#

Bercerita pada angin mungkin adalah hal terbaik untuk dilakukan manusia seperti aku. Ceritakan saja sesuka sukma, apa adanya, entah nyambung atau tidak, ada yang baca atau tidak, whatever-lah!. Tapi tetap juga di syukuri bila ada yang singgah untuk baca sejenak, apalagi kalo yang baca itu adalah kamu. Alaaahh.

Waiittzz…kamu di sini itu ya kamu; Aquina. Siapa lagi kalo bukan kamu, kan bisa ditebak setiap kata yang kurangkai, sudah barang tentu kamu yang dibicarakan, kamu inspiratornya. Gadis yang kurasa penuh dengan kelemah-lembutan mampu meliuk menari dalam badai. Jadi tak perlulah seandainya bertanya siapa “kamu” itu.

Yap. Hari ini entah asal muasalnya apa, tetiba aku dapat dorongan dari dalam batin untuk membahas perihal kamu. Ini bukan perkara keanggunanmu atau apalah itu namanya, ini tentang sebuah konflik batin yang belum aku temui apa tujuan dan maknanya.

Bukan menyesal. Bukan pula menyalahi keadaan apalagi mengutuk keanggunanmu. Aku hanya bergumam bersama hati yang nanar dan bertanya pada diri sendiri –berbisik-bisik. Kenapa aku mengenalmu, kenapa harus aku -lalu kamu, kenapa setiap saat selalu saja ruang kepala terisi penuh oleh namamu. Kamu super edan Aquina dan aku amatlah payah. Yaa.. . payah karena seperti tak terbiasa tanpa namamu. Lebay!

Aku lupa seperti apa dulu aku bisa mengenalimu, tanpa sengaja, tanpa tanpa yang lainnya. Kamu hadir begitu saja, mengalir bak air. Dan kini namamu itu bersemayam dalam tiap bait puisiku.

Aquina, aku paham betul, dengan sedikit senyum saja kau kemungkinan besar mampu membuat aku melayang. Dengan kedipan sebelah matamu kemungkinan besar mampu membuat aku lemah tak berdaya. Dan yang lebih sadisnya dengan belaian lembutmu, oh Tuhan… apa mungkin itu jadi kenyataan. Heh!

Namun, di balik semua ketidakmungkinan aku akan tentang dirimu, di balik khayalanku yang super payah, ada hal yang sangat aku banggakan dan ku-syukuri. Ini sudah kupastikan sendiri dengan seksama dan dalam tempo yang selama-lamanya aku akan selalu merasa bangga karena menyetubuhi namamu. Sebab dengan namamu aku mampu merangkai ribuan kata yang yang akhirnya ku-namakan puisi.

Ketika aku menyetubuhi puisiku berarti aku sedang memikirkanmu dan tanpa malu harus mengakui bahwa aku benar mengagumi dirimu yang selalu tampak syahdu dan indah dengan balutan kaffah hijabmu.

Duh… Kurasa cukup untuk hari ini, Aquina.

Maafkan aku bila berlebihan bercerita tentangmu. Sekali lagi harus kuakui, aku mengagumimu dengan segala kepayahanku dan tulisan ini bukanlah sebuah penyesalan.

Pasaman Barat, 22 Oktober 2016

==O.o.O==

terhempas

di lautan mahaluas

menghilang

di balik gema gua

cukup!

tak ada lagi yang bisa

dijelaskan atas ini,

benar lemah sebagai insani.

biarkan saja kagum ini

mengalir hingga habis

dan mati.

==O.o.O==

Ilustrasi : doc.pribadi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here