Dengan lamat-lamat aku menatapi kerlip bintang nan jauh di sana. Duduk di teras rumah dan di iringi alunan lagu-lagu klasik yang menghanyutkan. Secangkir kopi hitam dan kepulan asap-asap sigaret menjadi teman setia menyeruak malam minggu bisu.

Dingin deru bayu melambai syahdu bukanlah jadi pengganggu. Hasrat sudah dipaku. Malam ini akan aku habiskan untuk mengeja wajahmu. Pada tanya yang belum terjawab. Pada nama yang selalu terbesit. Adalah ukiran senyum manjamu nan begitu dalam terpahat di relung jiwaku.

Perlu kamu tahu, aku ditombak rindu. Rinduku padamu membatu saat ini. Kuat dan teramat kokoh. Tak mampu aku pecahkan, meski via suara kamu kuatkan aku dengan rayu-rayu.
Adakah kamu rasakan rindu yang sama. Atau hanya aku yang tanpa malu mengaku rindu?.

Ya. Barangkali kamu sudah muak perihal cuitan rindu yang selalu menggebu. Tapi beginilah adanya, ia tak bisa aku tahan-tahan. Atau membiarkan ia berlalu begitu saja. Rindu ini setia bersemanyam dalam jiwa, bersama darah mengalir ke seluruh bagian tubuh.
Bukan lagi hitungan hari. Ini bahkan telah menahun. Rinduku amat lekat, bak paku menancap kuat pada dinding rumah kayu.

Aku ingat betul – dan semoga kamu juga tidak melupa. Dahulu. Kala itu, tak ada rindu itu hanya aku. Karena kita sama-sama tahu, rindu itu adalah kita. Lalu malam minggu adalah malam temu yang melunturkan segala rindu. Kita sama-sama pecahkan sekeras apapun itu rindu.

Ah, baiklah. Atas nama rindu. Malam ini biarlah timbangan rindu lebih berat padaku. Sebab aku tahu, aku punya pundak yang sudah teruji kuat menahan beban rindu yang membatu. Sedangkan kamu, kamu takkan mampu sekuat aku. Namun sedikit saja untukmu, jagalah senyum manis nan manjamu itu hingga waktu temu menyatukan kita.


Kalimantan Barat, 09 Oktober 2018.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here