Menjelaga tubuhku pun aku rela
selamanya aku ‘kan tetap bersamanya
merajut melukis dikara ribuan aksara
dalam syahdu mendayunya belaian rima

…A…
…E…
…I…
…O…
…U…
logat desah rimaku padanya
tersaji berlarik-larik memain bahasa
hingga bergetar tubuhku oleh nektar diksi-diksi
yang mengutuk hidupku hanya dia yang kudu di gilai

__”ah… kau sungguh bisa meluluhlantakkan imajiku”
“hingga aku benar-benar gila oleh senandung indahmu”
begitu ucapku, di bait tiga pada tubuhnya.

dan kini kuputuskan bercakap
antara kita harus berucap ijab
kau harus bisa bertanggungjawab
atas apa-apa yang tlah kau ungkap
agar di antara kita tiada pernah senyap
apa lagi sampai lenyap

sekarang coba kau pandang ronaku
perhatikan setiap detak nadiku
dan rasakan gelagat aliran hangat napasku
nah, semua itu adalah tentangmu
semburat adiluhung tubuhmu

maka dari itu
izinkan aku menyetubuhimu selalu
bersatupadu tanpa ada sekatan jemu
melumat lembaran diksi yang tersuguh
hingga ajal yang memisahkan kau dan aku

dan di bait tubuhmu yang terakhir
kembali kuingatkan bahwa kita harus berikrar
ikrar setia sepanjang zaman
“apapun yang terjadi kita harus selalu bergandengan”
“apapun yang terjadi kau harus rela disetubuhi setiap detak waktu berjalan”
“karena kau wahai puisiku, adalah pengontrol batin kala aku di terpa kegundahgulanaan”
“karena kau wahai puisiku, adalah kekasih sepanjang zaman”

==O.o.O==

Bengkulu, 30 Maret 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here