Aku masih sempat menyapa angin
: Kau yang di sana

Aku sangat ingat dan paham saat detik-detik ini. Di mana gurat senyum menyeringai diteriknya mentari. Di antara hembusan angin yang meruntuhkan dedaunan. Kau seakan datang melambai memberi kehangatan

Kau yang di sana, tak perlu kau jadikan aku yang utama karena sungguh tak aku inginkan hal itu nyata adanya. Aku hanya ingin menjadi bagian akhir dalam lembaranmu namun ‘kan selalu ada dalam benakmu.

Lalu, biarkan aku memuai dan meleleh di antara sudut-sudut timah panas untuk melepaskan segala yang menjadi coretan hitam di atas sobekan putih. Agar segala coretanku hangus ditelan sang api. Kelakuan ini parah sangatlah parah. Namun kata “Keep-Calm” akan selalu ada menemani gundukan rasa yang memelas segudang ilusi.

Kau yang di sana, waktu tak pernah bisa kita kembalikan; itu benar. Namun perkataan yang terucap akan menjadi rajam dalam setiap detik jarum jam pengintai hari di persimpangan jalan.

Kau yang di sana.
O… ini hanya coretan kecil yang membabu-rasa. Sangat tak penting bila kau memikirkannya. Cukup kau toleh dan berkata “Oh…“
Ya.. hanya itu yang diinginkan. Selebihnya biarlah mayapada menguras semuanya untuk menuju angan masing-masing kepala kita.

Aku bahagia?
: adalah “tanda tanya” besar yang tak pernah bisa kujawab dalam tulisan maupun lisan.
Kau bahagia?
: adalah “tanda tanya” yang wajib kujawab “Iya”. Karena ini sangat pantas disematkan atas pilihanmu bersama mereka yang memberi segala kehendakmu.
Aku gila dan bodoh, aku diperbudak rasa?
: adalah ucapan yang tidak ada salahnya untuk kau cap-kan untukku bersama ilusi liar yang pernah kau lihat ini. Karena inilah aku yang selalu samar di matamu.

Kau yang di sana, teruslah kau mengasah bahagiamu itu. Keikhlasanku, kujadikan secuil doa mengiringi jalan kebaikanmu. *

=O.o.O=

Bengkulu, 04 Juli 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here