aku indonesia © lipul.id  Aku, Indonesia, dan Kawan yang Mengatasnamakan Kebaikan Tuhan Lipulpict
ilustrasi/dok.pri

Celoteh – Sebelumnya, tulisan yang kurangkai dalam laman ini entah masuk kategori apa. Ini mengalir saja dari apa yang dipikirkan di kepala. Niatnya mau ngebahasperistiwa ayat Tuhan yang lagi hangat diperbincangkan. Akan tetapi sangatlah tidak mungkin rasanya karena perihal itu sangat disadari bahwa diri ini tidak kompeten untuk mengulasnya. Takut. Salah eja nanti kau bilang bodoh, salah tulis dan tidak sepaham denganmu nanti kau bilang kafir, dan blablabla.

Baiklah. Bukan perkara aku tak mau tahu akan peristiwa kekinian. Bukan pula mengabaikan ajakkan dan dalil baik menurut versi kalian duhai para pintar yang merasa paling benar. Aku hanya ingin hidup seperti apa yang kupikirkan. Aku hanya ingin hidup seperti apa yang aku dapati dulu dan aku rasakan sekarang. Aku hanya ingin hidup atas apa yang aku yakini dari nurani.

Aku sangat paham Kawan, di antara kalian kawan-kawanku, sangat memungkinkan untuk tak sepakat dengan apa yang aku tuangkan. Bahkan mungkin akan mengatakan: “Hei..yu!, ini perkara amatlah kompleks. Ini perkara telah menghina kita, agama dan Tuhan. Kita wajib bela dan lawan. Bila kau tidak tergerak berarti kau telah bersama golongan itu… KAFIR!…” – Lebih parahnya lagi mengatasnamakan dalil baik Tuhan, kau beserta golongan baik versimu seakan siap mengakat pedang dan menebas kepala mereka yang tak sepaham. Duh… Ngeri!.. Mungkin juga kepalaku nantinya.

Jujur kawan. Aku sangat menikmati hidup penuh keberagaman di Indonesia ini. Walaupun tak semua nama dari para pahlawan kita dulu aku kenal. Juga tak semua agama dari mereka itu aku tahu. Namun keyakinanku mengatakan bahwasanya Indonesia ini ada bukan hanya karena satu golongan saja yang berjuang dan rela menumpahkan darahnya demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia –yang sekarang menjadi tempat hidup aku dan kau, Kawan.

Mereka para pahlawan kita berasal dari berbagai golongan. Ada dari golong sepertimu, golongan seperti aku, dan juga golongan seperti dia. Ya… Meskipun dalam perjalanan mereka perbedaan-perbedaan tetaplah ada –bahkan mungkin lebih banyak dan lebih kompleks, tapi akhirnya mereka juga bersatu-padu untuk merdeka, lalu mengusung kata Bhinneka Tunggal Ika yang sampai sekarang -puji Tuhan- masih aku pahami makna dasarnya dari tiga kata itu.

Untukmu duhai kawanku yang merasa teorinya paling benar, ingin kusampaikan padamu; aku (kami) hanya ingin Indonesia menjadi semestinya Indonesia yang di dalamnya ada banyak manusia dengan agama, suku, dan ras yang berbeda denganmu. Janganlah mudah kau menyalahkan dan meng-KAFIR-kan kami yang sekiranya tidak sepaham denganmu. Terimalah darah Indonesia yang mengalir di tubuh kita ini dengan sepenuhnya.

Dan terakhir, bagi diriku, puji syukur sudah barang tentu wajib disampaikan pada Tuhan yang Mahasuper sebab atas kuasa-Nya hingga saat ini aku masih diberikan keluasan hati dan kesempatan untuk hidup berteman kepada siapa saja. Dan… Ya… Setidaknya hari ini aku masih bisa menikmati secangkir kopi hitam bersama hentakan irama musik reggae dan hembusan asap rokok yang mengawan –tenang.

Selamat menikmati hidup, Kawan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here